Kamis, 06 Juni 2013

Seni Menyiasati Jam Kosong Di Kelas

Dra Nanik Masriyah, Guru SMPN Kudu
Ditulis ulang oleh Admin dari Majalah Suara Pendidikan

Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah lekat dengan problem jam kosong. Problematika tersebut dialami hampir di semua sekolah baik negeri maupun swasta. Antisipasi yang dilakukan rata-rata di sekolah adalah dibentuknya guru piket. Pertanyaannya, mampukah guru piket menggantikan guru mata pelajaran(mapel)? Cukupkah guru piket sekedar memberikan tugas dari guru mapel? Bagaimana kondisi psikologis siswa ketika menemui situasi tersebut?

Jam kosong terjadi karena berbagai alasan. Guru sedang mengikuti tugas di luar, guru sedang sakit atau guru sedang ada kegiatana lain yang dengan terpaksa harus meninggalkan siswanya. Secara umum, ketika terjadi jam kosong dalam hati siswa berkata; "horee...... asyeeeekk!!" Apalagi jika mapel tersebut kurang diminati dan lebih lengkap jika gurunya pun kurang dirindukan siswa karena memiliki cara mengajar yang membosankan.

Memang ada juga siswa yang kecewa jika ada jam kosong, apalagi pelajaran itu favorit mereka. Namun prosentasenya jauh lebih kecil. Menyiasati jam kosong agar menumbuhkan kebermanfaatan dan kemenarikan siswa sering kita abaikan. Kita sebagai pendidik merasa telah gugur kewajiban. Begitu pula, guru piket sudah merasa melaksanakan tugas walau hanya datang dan menuliskan amanah dari guru yang sedang tidak bisa melaksanakan kewajiban.

Efektif dan bermanfaatkah tugas yang diberikan guru pengganti tersebut? Bisa jadi, siswa juga tidak suka dengan guru pengganti karena sdah membuat dan menghilangkan perasaan "asyek". Kebebasan yang seharusnya didapat diganti dengan kewajiban mengerjakan tugas. Boleh jadi siswa akan mengerjakan tugas dengan asal-asalan karena yang terpenting cepat selesai dan segera dapat bermain-main dan bercengkerama dengan teman lainnya. Bahkan tidak jarang beberapa siswa mencuri-curi waktu pergi ke kantin atau warung sekolah.

Guru adalah salah satu pilar penjaga nilai. Guru menjadi salah satu penentu masa depan bangsa. Kiranya guru dituntut untuk selalu memunculkan ide-ide dan inovasi baru bukan hanya saat melaksanakan KBM tetapi juga pada saat mengisi jam kosong.

Beberapa ide alternatif berikut ini bisa diterapkan untuk mengisi jam kosong. Antara lain sebagai berikut:

1. Cerita Motivasi
Bercerita bukan monopoli guru bahasa saja, guru mata pelajaran lain pun bisa bercerita. Kemampuan dasar seorang guru pada dasarnya adalah mampu berbicara di depan anak didik. Tentu saja cerita yang dimaksud adalah cerita-cerita yang inspiratif.

2. Curah Gagasan
Berita di televisi atau koran tentunya tidak luput dari perhatian siswa. Berita yang menjadi headline di televisi biasanya menjadi topik utama di koran. Apalagi jika berita menjadi perhatian publik. Umumnya para siswa juga mengetahaui isi berita tersebut. Namun sayang, sering kali guru mengabaikan hal tersebut sebagai medium curah gagasan.

3. Membaca di Perpustakaan
Perpustakaan sekolah merupakan sarana yang harus dimanfaatkan bukan hanya oleh siswa yang pintar atau gemar membaca saja. Perpustakaan juga bukan milik guru mata pelajaran Bahasa Indonesia saja. Guru piket   walau bukan guru Bahasa Indonesia tetap berhak dan bisa memanfaatkan perpustakaan untuk mengisi jam kosong.

4. Diskusi Kelas
Seoarang guru bisa bertanya dan menjaring aspirasi dari siswa. Hal tersebut bisa kita manfaatkan dan bermanfaat bagi siswa dan sekolah. Guru dan siswa bisa membuat kesepakatan untuk menemukan topik-topik yang ada di sekolah dan berdiskusi mencari solusi bersama.

5. Perjalanan Wisata Sekolah
Perjalanan wisata tentunya sangat menarik jiga dilakukan di luar sekolah. Bagaimana jika perjalanan wisata tersebut dilakukan di sekolah? Jawabannya pasti tidak menarik dan tidak biasa. Bahkan akan terasa membosankan! Patut dicoba, perjalanan wisata mulai mengajak siswa melihat dan memperhatikan tukang kebun yang sedang memotong rumput dan menyapu halaman demi terciptanya lingkungan yang nyaman dan bersih di sekolah.

6. Pendekatan Qolbu/Hati
Hati ialah sesuatu yang ada di tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian. Hati adalah bagian inti dari diri seseorang. Hati yang baik berpotensi membuat otak menjadi cerdas. Mengisi jam kosong dengan pendekatan hati mempunyai nilai tambah bagi siswa.

Paparan ide-ide alternatif tersebut tentunya situasional. Bapak dan Ibu guru piket bisa menyesuaikan jenjang kelas, situasi dan kondisi di sekolah masing-masing. Ide-ide alternatif tersebut telah diterapkan di sekolah tempat Sumber mengajar. Dan hasilnya, siswa sangat antusias dan merasa enjoy menikmati jam kosong dengan cara kreatif. Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa membutuhkan situasi lain dari sekedar mengerjakan tugas yang membosankan.

Guru memegang peranan terpenting bagi kemajuan sebuah sekola. Karena guru tidak hidup hanya untuk dirinya, tetapi cerminan dan teladan bagi ribuan anak didik yang setiap hari bersamanya. Untuk itu, sebagus apapun fasilitas sekolah dan sehebat apapun konsep kurikulum, di tangan guru yang malas hasilnya tentu tidak optimal.

Selamat mencoba..!

0 comments: